10 Contoh Kajian Pedologi dalam Masyarakat

Diposting pada

Contoh Kajian Pedologi dalam Kehidupan Masyarakat

Dalam mempelajari fenomenologi fundamental tanah, misalnya formasi tanah (alias pedogenesis), ahli pedologi memberikan perhatian khusus untuk mengamati morfologi tanah dan distribusi geografis tanah, dan penempatan tubuh tanah ke dalam konteks temporal dan spasial yang lebih besar. Pedologi adalah salah satu cabang ilmu yang terdapat pada ilmu geografi.

Dengan demikian, ahli pedologi mengembangkan sistem klasifikasi tanah, peta tanah, dan teori untuk mengkarakterisasi keterkaitan temporal dan spasial antar tanfah. Pada tulisan kali ini akan menjelaskan tentang contoh kajian pedologi dalam masayarakat yang harus benar-benar dipahami secar utuh.

Pedologi

Hal ini membuat pemahaman dasar tentang pedologi menjadi penting bagi siapa pun yang bekerja di bidang ini. Yang dimaksud dengan pedologi adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang asal usul atau hubungan antara tanah dengan komponen pembentuk pada tanah.

Kebutuhan masa depan dalam pedologi mencakup peningkatan pengetahuan tentang proses tanah, informasi tentang survei tanah tentang perubahan tanah dari waktu ke waktu, pemahaman yang lebih baik tentang tanah dan interaksi perubahan iklim, dan interaksi tanah dan air (Brevik et al, 2020). Pedologi juga ilmu yang membahas tentang karakteristik tanah maka dari itu contoh kajian pedologi bisa menjadi referensi untuk mencari tanah yang baik untuk tanaman.

Contoh Kajian Pedologi

Pedologi merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan semua aspek tanah, termasuk sifat fisik (misalnya warna, tekstur, struktur) dan sifat kimia (misalnya KTK, pH, persentase kejenuhan dasar, kandungan nitrogen), peran organisme dalam produksi tanah dan kaitannya dengan karakter tanah, deskripsi dan pemetaan satuan tanah, serta asal dan pembentukan tanah. Berikut ini terkait beberapa aspek contoh kajian pedologi yang telah disebutkan di atas:

  1. Warna Tanah

Warna tanah sangat bervariasi dan menunjukkan sifat-sifat penting seperti bahan organik, air, dan kondisi redoks. Tanah yang kaya zat besi berwarna oranye tua sampai coklat kekuningan. Tanah yang mengandung bahan organik tinggi berwarna coklat tua atau hitam.

Warna juga dapat memberitahu kita bagaimana suatu tanah “berperilaku” – tanah yang memiliki drainase yang baik berwarna cerah dan yang sering basah dan lembab akan memiliki pola belang-belang berwarna abu-abu, merah, dan kuning.

  1. Tekstur Tanah

Partikel-partikel penyusun tanah dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan ukurannya – pasir, debu dan liat. Partikel pasir adalah yang terbesar dengan ukuran (2 – 0.05 mm), partikel debu memiliki ukuran (0.05 – 0.002 mm), dan partikel liat adalah yang terkecil dengan ukuran < 0.002 mm. Kebanyakan tanah merupakan kombinasi dari ketiganya. Persentase relatif pasir, debu, dan liat inilah yang memberi tekstur pada tanah.

  1. Struktur Tanah

Struktur tanah adalah susunan partikel-partikel tanah menjadi rumpun kecil yang disebut ped atau agregat. Partikel-partikel tanah (pasir, lumpur, tanah liat dan bahkan bahan organik) saling mengikat membentuk ped. Bergantung pada komposisi dan kondisi di mana ped terbentuk (basah dan mengering, atau membeku dan mencair, lalu lintas pejalan kaki, pertanian, dan lain-lain), ped memiliki bentuk tertentu.

Struktur tanah bisa berupa butiran atau granular (seperti tanah perkebunan), kotak-kotak atau blocky, berbentuk kolom atau columnar, platy, masif atau berbutir tunggal (seperti pasir pantai). Struktur berkorelasi dengan ruang pori di dalam tanah yang mempengaruhi pertumbuhan akar dan pergerakan udara dan air.

  1. Kapasitas Tukar Kation (KTK) 

Kapasitas tukar kation (KTK) adalah jumlah maksimum total kation yang mampu ditahan oleh tanah, pada nilai pH tertentu, tersedia untuk ditukar dengan larutan tanah (soil solution). KTK digunakan sebagai pengukur kesuburan, kapasitas retensi hara, dan kapasitas untuk melindungi air tanah (groundwater) dari kontaminasi kation. Ini dinyatakan sebagai centi-mol Hidrogen per kg (cmolc / kg atau 100 meqc / 100g). Sebagian besar KTK tanah terjadi pada tanah liat dan humus. 

  1. pH Tanah

Reaktivitas tanah dinyatakan dalam pH dan merupakan ukuran keasaman atau kebasaan tanah. Lebih tepatnya, ini adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan air dan berkisar di tanah dari 3,5 (sangat asam) hingga 9,5 (sangat basa).

Tanah dengan keasaman tinggi (<5.5) cenderung memiliki kandungan aluminium dan mangan yang beracun. Organisme tanah terhalang oleh keasaman tinggi, dan sebagian besar tanaman pertanian tumbuh subur dengan tanah mineral dengan pH 6,5.

  1. Persentase Kejenuhan Dasar

Ada kation pembentuk asam (hidrogen dan aluminium) dan ada kation pembentuk basa (kalsium, magnesium, kalium dan natrium). Fraksi kation pembentuk basa yang menempati posisi pada koloid tanah disebut persentase kejenuhan basa.

Ketika pH tanah 7 (netral), kejenuhan basa 100 persen dan tidak ada ion hidrogen yang tersimpan di koloid. Kejenuhan basa hampir berbanding lurus dengan pH dan kecuali untuk digunakan dalam menghitung jumlah kapur yang dibutuhkan untuk menetralkan tanah asam, ini tidak banyak gunanya.

  1. Nitrogen Tanah 

Nitrogen adalah elemen paling penting yang diperoleh tanaman dari tanah dan bila kekurangan akan menghambat pertumbuhan tanaman. Tanaman dapat menggunakan nitrogen sebagai kation amonium, NH4 +, atau anion nitrat, NO3-. Nitrogen jarang hilang di dalam tanah, tetapi seringkali dalam bentuk bahan organik mentah yang tidak dapat digunakan secara langsung.

Nitrogen juga tersedia dalam bentuk gas di dalam tanah, namun jumlahnya sangat kecil dan sulit dideteksi seperti: nitrous oxide (N2O), nitric oxide (NO), nitrogen dioxide (NO2), ammonia (NH3) dan molekuler nitrogen ( N2) hadir di ruang udara tanah. 

  1. Peran Organisme dalam Produksi Tanah

Tanah itu penuh dengan kehidupan. Sering dikatakan bahwa segenggam tanah memiliki lebih banyak organisme hidup daripada manusia di planet Bumi. Tanah adalah perut bumi yang memakan, mencerna, dan mengedarkan nutrisi dan organisme.

Organisme hidup yang ada di tanah termasuk archaea, bakteri, actinomycetes, fungi, alga, protozoa, dan berbagai fauna tanah yang lebih besar termasuk springtail, tungau, nematoda, cacing tanah, semut, dan serangga yang menghabiskan seluruh atau sebagian hidupnya di bawah tanah.

Hubungan antara organisme tanah dan bagaimana mereka mempengaruhi sifat kimia dan fisik tanah adalah kompleks. Semua ini penting dalam membentuk lingkungan yang kita sebut tanah dan dalam menghasilkan banyak transformasi yang sangat penting bagi kehidupan.

  1. Pemetaan Satuan Tanah

Pemetaan tanah adalah proses penggambaran badan-badan alami tanah, mengklasifikasikan dan mengelompokkan tanah yang digambarkan ke dalam unit-unit peta, dan menangkap informasi properti tanah untuk menafsirkan dan menggambarkan distribusi spasial tanah pada peta.

Tanah dan berbagai macam area (misalnya, singkapan batuan) di suatu wilayah survei memiliki pola teratur yang berkaitan dengan geologi, bentang alam, topografi, iklim, dan vegetasi alami. Setiap jenis tanah dan area lain-lain dikaitkan dengan jenis bentuk lahan tertentu atau dengan segmen bentuk lahan tersebut. Ilmuwan tanah menggambarkan pola berulang dari segmen bentuk lahan ini, atau badan alami, pada peta.

  1. Asal Pembentukan Tanah 

Lapisan tanah memerlukan jangka waktu yang relatif lama dalam proses pembentukannya. Hans Jenny (1941) menjelaskan bahwa proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu:

  1. Iklim, yang mengatur laju dan jenis pembentukan tanah
  2. Organisme, berpengaruh terhadap rentang perkembangan tanah (misalnya bakteri dan jamur membantu dekomposisi tanaman)
  3. Bahan Induk (Parental Material), yang bisa berupa batuan (sehingga menghasilkan tanah mineral) atau berupa bahan organik (sehingga menghasilkan tanaha organik)
  4. Waktu, yang menentukan jenis dan sifat-sifat tanah

Dari keempat tersebut dapat dijelaskan bahwa pentingnya contoh kajian pedologi untuk materi pengenaan tentang aspek tanah dan kebermanfaatanya karena pada dasarnya Pedologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tanah.

Demikianlan tulisan yang dapat kami bagikan kepada segenap pembaca berkaitan tentang materi contoh kajian pedologi dalam masyarakat. Semoga pada tulisan ini akan menambah pengetahuan dan wawasan segenap pembaca dan menjadi sumber referensi.

Rate this post