Contoh Konflik di Indonesia

Posted on

Contoh Konflik di Indonesia

Dalam kehidupan sosial, ada interaksi sosial antar kelompok atau individu. Tentu saja ada dinamika hubungan yang bisa menjadi harmonis atau saling bertentangan. Hubungan harmonis dalam masyarakat jelas merupakan kondisi ideal yang diinginkan oleh manusia. Namun dalam dinamika interaksi, tentu saja ada kemungkinan mengarah pada konflik. Konflik adalah masalah sosial yang timbul dalam kehidupan masyarakat atau negara. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pendapat atau pandangan, karena kurangnya toleransi dan rasa saling memahami kebutuhan individu di masyarakat.

Pada titik ini, suatu kelompok tidak lagi bersatu, dan dapat terpecah menjadi koalisi. Eskalasi konflik pada tahap ini dalam beberapa kasus memberi jalan ke tahap penyelesaian konflik, setelah itu kelompok akhirnya dapat kembali ke interaksi kelompok seperti biasanya sebelum terjadinya konflik. Untuk memperjelas pemahaman kita tentang konflik, artikel ini akan mengulas tentang beragam contoh konflik yang pernah ada di Indoneisa.

Konflik

M.Ajit mencatat tidak ada definisi konflik yang diterima secara universal. Dia mencatat bahwa satu masalah pertengkaran adalah apakah konflik itu merupakan situasi atau tipe perilaku. Untuk memahami definisi lain tentang konflik, Michael Nicholson mendefinisikannya sebagai aktivitas yang terjadi ketika makhluk sadar (individu atau kelompok) ingin melakukan tindakan yang tidak konsisten satu sama lain mengenai keinginan, kebutuhan, atau kewajiban mereka.

Konflik adalah eskalasi perselisihan, yang merupakan prasyarat umum, dan ditandai oleh keberadaan perilaku konflik, di mana makhluk secara aktif berusaha untuk saling merusak. Rakhim mencantumkan beberapa manifestasi perilaku konflik, dimulai dengan ketidaksepakatan, dan diikuti oleh pelecehan dan gangguan verbal.

Konflik dapat terjadi antara individu, kelompok, dan organisasi; Contohnya termasuk pertengkaran antara individu, pemogokan buruh, olahraga kompetitif, atau konflik bersenjata.

Pengertian Konflik

Konflik berasal dari bahasa Latin yang artinya “menyerang”, tetapi konflik itu tidak selalu mengarah pada kekerasan. Konflik dapat muncul dari ide-ide yang berlawanan.  Konflik jarang dianggap konstruktif; Namun, dalam konteks tertentu (seperti kompetisi dalam olahraga), tingkat konflik dapat dilihat sebagai hal yang saling menguntungkan, memfasilitasi pemahaman, toleransi, pembelajaran, dan efektivitas.

Sophia Jowett membedakan antara konflik konten, di mana individu tidak setuju tentang cara menangani masalah tertentu, dan konflik relasional, di mana individu tidak sepakat tentang satu sama lain, mencatat bahwa konflik konten dapat bermanfaat, meningkatkan motivasi dan merangsang diskusi, sedangkan konflik relasional menyebabkan berkurangnya kinerja, kesetiaan, kepuasan dan komitmen, dan menyebabkan individu menjadi mudah tersinggung, negatif, dan curiga.

Jehn dan Mannix telah mengusulkan pembagian konflik menjadi tiga jenis: hubungan, tugas, dan proses. Konflik hubungan berasal dari ketidakcocokan antarpribadi; konflik tugas terkait dengan ketidaksepakatan dalam sudut pandang dan pendapat tentang tugas tertentu, dan konflik proses mengacu pada perbedaan pendapat tentang pendekatan kelompok terhadap tugas, metode, dan proses kelompoknya.

Amason dan Sapienza pada gilirannya membedakan antara konflik afektif dan kognitif, di mana konflik kognitif berorientasi pada tugas dan timbul dari perbedaan dalam perspektif atau penilaian, dan konflik afektif adalah emosional dan timbul dari perbedaan dan perselisihan pribadi.

Pengertian Konflik Mneuurt Para Ahli

Adapun definisi konflik menurut para ahli, antara lain:

Soerjono Soekanto

Konflik merupakan bentuk pertentangan terhadap lawan yang dapat terjadi ketika setiap individu atau kelompok menggunakan segala cara termasuk ancaman atau kekerasan dalam rangka mencapai tujuannya.

Taman dan Burgess (1921) 

Taman dan Burgess memandang konflik sebagai bentuk yang berbeda dari kompetisi atau persaingan. Mereka berpendapat bahwa keduanya merupakan bentuk interaksi. Kompetisi atau persaingan merupakan perjuangan antara individu atau kelompok individu yang dilakukan tanpa melalui kontak dan komunikasi. Sedangkan konflik merupakan sebuah perlombaan di mana terjadi kontak sebagai kondisi yang sangat diperlukan.

A.W. Hijau (1956)

Konflik diartikan sebagai upaya yang disengaja untuk melawan atau memaksa kehendak lain atau orang lain. Sebagai sebuah proses, konflik merupakan kebalikan dari kerjasama di mana usaha sengaja dilakukan untuk menggagalkan kehendak orang lain.

Max Weber (1968)

Max Weber mengemukakan pendapat bahwa hubungan sosial disebut sebagai konflik apabila sepanjang tindakan yang terdapat di dalamnya secara sengaja ditujukan untuk melaksanakan kehendak satu pihak untuk melawan pihak lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa konflik merupakan suatu hubungan sosial yang dimaknai sebagai keinginan untuk memaksakan kehendaknya pada pihak lain.

Contoh Konflik

Indonesia sebagai negara dalam pengertian masyarakat multikulturalisme juga termasuk negara yang rawan terhadap terjadinya konflik. Adapun penyebab-penyebab konflik yang terjadi di Indonesia tersebut antara lain adalah sebagai berikut;

  1. Perbedaan antara individu
  2. Perbedaan budaya
  3. Konflik kepentingan
  4. Perubahan sosial yang terlalu cepat di Masyarakat
  5. Persaingan di masyarakat
  6. Persaingan di bidang budaya
  7. Posisi dan persaingan peran
  8. Persaingan lomba
  9. Persaingan dalam penggunaan sumber daya
  10. Perbedaan dalam tujuan unit
  11. Perbedaan nilai dan persepsi
  12. Hambatan komunikasi
  13. Karena media sosial

Konflik di Indonesia

Berdasarkan beragamnya faktor penyebab konflik di Indonesia, berikut akan diulas contoh konflik sosial yang terjadi di Indoensia, antara lain;

Konflik Suku di Sampit

Konflik Sampit adalah pecahnya kekerasan antar-etnis di Indonesia, dimulai pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun. Konflik dimulai di kota Sampit, Provinsi Kalimantan Tengah, dan menyebar ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota, Palangkaraya. Konflik itu terjadi antara orang Dayak asli dan pendatang Madura dari pulau Madura di luar Jawa.

Konflik pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua orang Madura diserang oleh sejumlah orang Dayak. Konflik tersebut mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 orang Madura mengungsi dari rumah mereka. Ratusan orang Madura juga ditemukan dipenggal oleh orang Dayak. Selengkapnya, bacaContoh Konflik Antar Suku di Indonesia

Konflik di Lampung Selatan

Di Lampung pernah terjadi konflik sosial yang menewaskan belasan orang terjadi antara sejumlah warga kampung di Kecamatan Kalianda dengan warga Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji. Konflik terjadi pada tanggal 27 Oktober 2012 sekitar pukul 23.00 WIB, saat dua gadis Lampung asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor mendapatkan gangguan dari pemuda asal Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.

Insiden tersebut diduga memicu kemarahan warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, sehingga ratusan warga Agom sontak mendatangi Desa Balinuraga yang mayoritas warganya beretnis Bali dengan menenteng senjata tajam, parang, pedang, golok, celurit, bahkan senjata senapan angin.

Konflik Sosial di Papua

Definisi konflik sosial juga terjadi di berbagai wilayah pedalaman Papua yang dilatarbelakangi oleh adanya perebutan lahan kekuasaan dan eksitensi ras atau suku di daerah tersebut. Hampir setiap tahunya wilayah tersebut dilanda konflik yang belum terselesaikan.

Konflik di Aceh

Aceh sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang dikenal memiliki banyak sekali kekayaan Sumber Daya Alam, salah satunya minyak bumi. Bahkan pernah terdengar jika cadangan minyak di aceh lebih banyak jika dibandingkan dengan Minyak Bumio di Arab Saudi.

Oleh karena itu, dahulu Aceh berkeputusan untuk membuat kemerdekaan sendiri dan berpisah dari NKRI, berdasarkan landasan tersebut akhirnya dilakukan kerjasama atas perundingan yang terjadi, tujuanya adalah untuk menekan adanya konflik sosial yang pernah terjadi ketika itu di Aceh.

Konflik Sosial di Jawa Barat

Konflik sosial yang pernah terjadi di Jawa Barat merupakan konflik antara organisasi yang berbeda. Kasus yang terjadi dalah hal ini ialah antara organisasi islam Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Masyarakat Bawah Indoensia (GMBI) pada tahun 2017. Meskipun dalam konflik sosial ini tidak menimbulkan adanya korban, tapi ada banyak sekali kerugian material yang diterima.

Konflik Sosial di Yogjakarta

Konflik sosial yang terjadi di Yogjakarta berkaitan dengan pengusiran mahasiswa yang pro dengan kemerdekaan Papua Barat, kondisi tersebut yang memunculkan adanya tindakan dalam masyarakat jogja untuk mengusir mahasiswa dari Papua Barat.

Konflik Sosial di Jakarta

Konflik sosial yang terjadi di Jakarta pada tahun 1998 silam merupakan konflik yang muncul karena adanya penolakan masyarakat yang mengatas namakan pribumi dengan mengusir, memperkosa dan melakukan pencurian terhadap etnis China.

Konflik Agama di Poso, Sulawesi Tengah

Kerusuhan Poso atau konflik komunal Poso merupakan sebutan bagi serangkaian kerusuhan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah. Peristiwa tersebut melibatkan kelompok Muslim dan Kristen. Contoh konflik agama ini secara umum terbagi menjadi beberapa fase, yaitu fase pertama berlangsung pada bulan Desember 1998, selanjutnya pada bulan April 2000, dan yang terbesar terjadi pada bulan Mei hingga Juni 2000.

Konflik di Mesuji

Konflik yang terjadi di Mesuji terjadi karena adanya perebutan tanah register antara perusahaan dan masyarakat. Pada dasarnya, peristiwa kekerasan antara warga dengan pihak perusahaan di Mesuji, baik yang berada di Lampung maupun di Sumatera Selatan, bukanlah hal baru.

Seperti yang terjadi antara warga Desa Sungai Sodong dengan PT SWA dan warga warga Kampung Sri Tanjung, Mesuji, dengan PT Barat Selatan Makmur Invesindo (BSMI), yang berdampak pengurasakan bangunan hingga memakan korban sebenarnya bukan hal baru.

Konflik Sosial di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah

Konflik yang terjadi di Pegunungan Kendeng dilatarbelakangi oleh adanya rencana pembangunan pabrik semen dari PT Semen Indonesia (Persero) di Sukolilo, Pati Utara, Jawa Tengah. Hal tersebut mengakibatkan masyarakat Desa Sukolilo menggelar aksi demonstrasi dan menggugat PT Semen Indonesia (Persero) tentang menolak pembangunan pabrik semen.

Aksi tersebut dilakukan oleh sembilan perempuan berkebaya dengan kain batik yang berkumpul di depan Tugu Tani, Menteng, Jakarta, pada hari Senin-Rabu, 12-15 Februari 2018. Mereka mengenakan caping yang bertuliskan “Tolak Pabrik Semen”. Tiga lelaki paruh baya ikut mendampingi mereka.

Konflik Sosial di NTB (Nusa Tenggara Barat)

Konflik yang terjadi di Nusa Tenggara Barat merupakan jenis konfliknya horizontal yang dilatar belakangi oleh adanya perbedaan suku atau budaya masyarakat disana.

Bentrokan terjadi antara etnis Bali dan etnis Samawa atau Sumbawa pada Selasa, 22 Januari 2013 siang di Kabupaten Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah rumah dan mobil milik etnis Bali pun dibakar warga Sumbawa.

Konflik Batas Desa di NTT (Nusa Tenggara Timur)

Di wilayah NTT juga pernah terjadi konflik sosial yang berkaitan dengan batas desa antara Desa Wulublolong dan Desa Lohayonh. Munculnya konflik tersebut dilatarbelakangi oleh saling berebutnya material (kekayaan alam) di perbatasan desa.

Pertikaian masalah batas wilayah tersebut memicu bentrokan yang menyebabkan tiga orang tewas dan ratusan rumah dibakar. Selain antara kedua desa tersebut, pertikaian juga terjadi antara warga Kabupaten Flores Timur dan Sikka di Desa Hikong. Penyelesaian masalah batas wilayah antar-kedua kabupaten nyaris ricuh, sehingga penyelesaiannya pun mengalami deadlock.

Konflik Sosial di Tolikora

Konflik yang terjadi di wilayah Tolikora dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan sosial mengenai penerimaan bantuan dana dari permerintah pusat. Munsulnya kesenjangan bantuan dana tersebut, khususnya berhubungan dengan bantuan dana pembangunan tempat ibadah (islam dan kristen) menyebabkan banyaknya fenomena sosial berupa konflik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Konflik Agama di Ambon

Konflik agama yang terjadi di Ambon (Maluku) pada bulan tahun 1999 sampai dengan tahun 2000, merupakan konflik yang terjadi atas identitas agama yaitu Islam dengan Kristen. Bukan hanya sebagai konflik antar agama, tapi ada faktor lain yaitu adanya kesenjangan ekonomi dan sosial.

Konflik yang terjadi antara warga Muslim baik Muslim pribumi maupun pendatang, yang kondisi perekonomiannya dianggap relatif lebih baik sebab pekerjaannya sebagai pedagang dan lebih banyak berperan dalam pemerintahan mengakibatkan kelompok Kristen merasa termarjinalisasi oleh keadaan tersebut.

Konflik Agama di Situbondo, Jawa Timur

Konflik agama juga terjadi di Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 10 Oktober 1996. Tahun tersebut menjadi tahun yang bersejarah bagi masyarakat Situbondo khusus nya yang berada di kecamatan Panji, Desa Kapongan, Kabupaten Situbondo.

Tragedi terjadi melibatkan sebagian besar masyarakat Situbondo. Sebelum adanya kejelasan, awal dari persoalan yang hingga menyebabkan pembakaran terhadap beberapa gereja yang ada di kota Situbondo. Beberapa sumber mengatakan bahwa konflik berawal dari debat dua tokoh agama hingga membawa dendam antar pengikut mereka.

Ada pula sumber yang meyebutkan bahwa konflik berawal dari perbedaan akidah pembelajaran islam individu dalam keluarga salah satu tokoh agama yang sangat termuka di Kota Panji.

Baca juga;

  1. Pengertian Konflik Interpersonal dan Contohnya
  2. Cara Pengendalian Konflik Beserta Contohnya

Demikianlah penjelasan tentang beragam contoh-contoh bentuk konflik yang pernah terjadi di Indonesia dari berbagai daerah. Semoga melalui artikel ini memberikan wawasan serta menambah edukasi mendalam kepada segenap pembaca. Trimakasih,

Rate this post