Pengertian Konflik Interpersonal, Ciri, Tujuan, dan Contohnya

Posted on

Konflik Interpersonal Adalah

Konflik interpersonal dapat terjadi antara dua orang (diad) atau kelompok. Konflik diad adalah episode sosial yang ditandai oleh oposisi perilaku terbuka. Fungsi konflik-konflik semacam itu dan cara pengungkapannya bervariasi sesuai dengan karakteristik orang yang bersangkutan dan hubungan mereka, masalah dan konteks ketidaksepakatan, taktik yang digunakan, dan konsekuensinya (Deutsch 1973).

Sedangkan definisi konflik sosial kelompok mengacu pada sikap dan perilaku negatif atau tidak sesuai yang diarahkan oleh anggota atau perwakilan satu kelompok terhadap perilaku kelompok lain. Sifat dan pentingnya konflik antarkelompok berbeda sesuai dengan gaya kepemimpinan dan norma yang berlaku, kohesi anggota, ketersediaan sumber daya, dan bakat individu dan kolektif dan pengalaman masing-masing kelompok (Sherif et al. 1961). Untuk memperjelas pemahaman kita tentang konflik interpersonal, artikel ini akan mengulas tentang pengertian, ciri, tujuan, dan contoh konflik interpersonal.

Konflik Interpersonal

Konflik interpersonal terdiri dari dua kata yaitu konflik dan interpersonal. Konflik merupakan hal yang umum terjadi di kehidupan sosial. Interaksi antar individu, antar kelompok maupun antara individu dan kelompok akan memunculkan konflik apabila terjadi perbedaan atau pertentangan.

Konflik merupakan suatu proses yang muncul ketika tindakan seseorang terganggu oleh tindakan lainnya. Secara umum konflik merupakan keadaan dimana terjadi suatu situasi yang saling bertentangan antara kekuatan yang ada pada individu, maupun antar individu dengan pihak lain karena adanya suatu stimulus atau pemicu baik dari luar ataupun dari dalam individu itu sendiri.

Sedangkan kata “Interpersonal” terdiri dari dua kata, yaitu inter yang artinya luar dan personal yang artinya orang-seorang atau individu. Jadi konflik interpersonal merupakan pertentangan yang terjadi antara individu dan individu lain karena adanya perbedaan keinginan atau kepentingan.

Hal yang perlu digarisbawahi dari definisi diatas adalah bahwa tidak semua perbedaan pendapat, keinginan atau kepentingan merupakan konflik interpersonal. Namun hanya perselisihan atau perbedaan yang melibatkan kebencian dan ketidakpuasan akan dianggap konflik interpersonal  meskipun tidak selalu bersifat fisik atau kekerasan.

Pengertian Konflik Interpersonal

Konflik Interpersonal atau konflik antarindividu merupakan pertentangan antar seseorang dengan orang lain yang disebabkan karena adanya pertentangan kepentingan. Dalam bidang usaha, hal tersebut bisa terjadi ketika suatu usaha yang telah berkembang dan melibatkan beberapa karyawan yang terlibat di dalam konflik interpersonal.

Pengertian menurut para ahli

Adapun definisi konflik interpersonal menurut para ahli, antara lain:

Donohue  dan  Kolt  (1992)

Konflik interpersonal dapat didefinisikan sebagai   situasi   dimana   individu   yang   saling   bergantung, mengekspresikan perbedaan baik yang termanifes atau laten dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan  masing-masing  dan  mereka  mengalami  gangguan  dari  satu  sama  lain untuk  mencapai  tujuannya.

Wilmot dan Hocker (2007)

Konflik interpersonal  merupakan pertentangan  antara  dua  pihak atau lebih yang  saling bergantung dan mereka  merasakan adanya ketidaksesuaian tujuan,  keterbatasan  sumber  daya dan  gangguan  orang  lain  dalam mencapai  tujuan  masing-masing  pihak  yang sedang berkonflik.

Weiten dan Lloyd (2006)

Konflik   interpersonal merupakan konflik  yang muncul apabila dua orang atau lebih terjadi ketidaksetujuan. Perselisihan ini biasanya disebabkan oleh kesalahpahaman kecil atau sebagai hasil dari perbedaan tujuan-tujuan, nilai-nilai, sikap atau keyakinan.

Johnson  dan Johnson

Konflik  interpersonal  merupakan suatu situasi  dimana  tindakan  seseorang  berakibat menghalangi,  menghambat, dan mengganggu tindakan orang lain.

Ciri Konflik Interpersonal

Secara umum konflik memiliki beberapa karakteristik, diantaranya yaitu sebagai berikut;

  1. Pada umumnya, konflik secara inheren melibatkan beberapa perasaan perjuangan atau ketidakcocokan atau perbedaan yang dirasakan antara nilai-nilai, tujuan, atau keinginan
  2. Terdapat kekuatan atau upaya untuk mempengaruhi.

Sedangkan, secara lebih spesifik, ciri-ciri atau karakteristik dari konflik interpersonal, diantaranya yaitu:

  1. Wilayah konflik interpersonal melibatkan kehadiran orang lain (setidaknya terjadi antara dua orang), karena konflik dapat muncul sebagai salah satu konsekuensi dari kehidupan sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Dalam sebuah interaksi dapat terjadi perbedaan pendapat, pertentangan tujuan, atau persaingan yang dapat memicu konflik interpersonal.
  2. Konflik interpersonal lebih berssifat antarpribadi yang biasanya berkaitan dengan sejumlah ketrampilan dalam menjalin hubungan sosial yang dimiliki tiap-tiap orang. apabila semakin kurang terampil seseorang dalam menjalin hubungan sosial (penyesuaian diri buruk, komunikasi tidak lancar, kepekaan kurang memadai), maka konflik interpersonal akan semakin mudah merasuk ke dalam pengalaman orang tersebut.
  3. Konflik interpersonal atau antarpribadi – sekali lagi – apakah itu substantif atau afektif, merujuk pada konflik antara dua orang atau lebih (tidak mewakili kelompok yang menjadi bagian mereka) dari kelompok yang sama atau berbeda pada tingkat yang sama atau berbeda, dalam suatu organisasi.
  4. Konflik antarpribadi dapat dibagi menjadi konflik intragroup dan intergroup. Intragroup, yaitu terjadi antara anggota suatu kelompok (atau antara subkelompok dalam suatu kelompok), sedangkan intergroup, yaitu terjadi antara kelompok atau unit dalam suatu organisasi.
  5. Tindakan, baik terbuka maupun rahasia, adalah kunci konflik antarpribadi. Sampai tindakan atau ekspresi terjadi, konflik adalah laten, bersembunyi di bawah permukaan.

Selain ciri atau karakteristik yang lebih bersifat umum, Myers & Myers (1992) mengemukakan bahwa konflik-konflik interpersonal bersumber pada:

  1. Perbedaan individual pada setiap orang, misal usia, sikap, pengalaman, keahlian, kecerdasan, pelatihan, dan lain-lain.
  2. Keterbatasan sumber daya, misal uang, waktu, perhatian, perasaan, benda-benda sumber daya materi lainnya yang harus dibagi dalam suatu hubungan;
  3. Keseimbangan peran, siapa yang mengontrol, mendapat kehormatan, dan lain-lain.

Sedangkan, Sadli (1986) dalam Rostiana (1999) mengemukakan bahwa terdapat 3 macam reaksi interpersonal yang memudahkan terjadinya konflik, yaitu:

  1. Reaksi interpersonal agresif, ditandai dengan adanya sikap menentang, curiga, bermusuhan, dan mempersepsikan lingkungan sebagai berbahaya
  2. Reaksi interpersonal compliant memiliki ciri yaitu mengalah, kurang matang, menyerahkan keputusan pada orang lain, dan selalu ingin menyenangkan orang lain.
  3. Reaksi interpersonal detachment, ditandai dengan adanya sikap mengambil jarak, tidak mau terlibat dengan orang lain, dan sedapat mungkin menghindari orang lain.

Tujuan Konflik Interpersonal

Pada dasarnya konflik memang dapat mengakibatkan hambatan pada suatu hubungan, tapi hal itu sangat bergantung bagaimana konflik pendekatannya, apabila konflik dikonfrontasikan dengan strategi yang produktif dan sehat, maka konflik dapat diselesaikan, dan dapat menjadikan suatu hubungan lebih kuat dan sehat. Tapi jika penyelesaian konflik menggunakan strategi yang destruktif, maka akan memperburuk suatu hubungan.

Myers & Myers (1992) mengemukakan bahwa konflik dapat bernilai sebab dapat mencegah stagnasi atau konformitas tanpa pemikiran. Hal tersebut dapat menstimulasi pengeksplorasian ide-ide dan prosedur-prosedur baru, hubungan yang baru, penerimaan yang sehat, dan penyesuaian dalam perubahan.

Konflik bisa membantu seseorang untuk memperjelas dan mengubah harapannya terhadap suatu hubungan serta konsepsi tentang dirinya dan pihak lainnya. Begitu pula jika yang terjadi adalah dengan konflik interpersonal atau konflik antarpribadi, yang tidak selalu membawa dampak negatif. Misalnya konflik interpersonal yang terjadi dalam suatu definisi daya saing perusahaan satu dengan yang lainnya.

Perusahaan perlu mengembangkan kebijakan untuk mengatur konflik untuk mencegahnya menjadi destruktif. Tetapi mempertahankan tingkat perselisihan interpersonal yang sehat dapat menjadi penting bagi keberhasilan bisnis melalui beberapa hal berikut, yaitu:

Kompetisi

Konflik antarpribadi menginspirasi kompetisi di antara anggota staf. Persaingan itu dapat meningkatkan produktivitas, menjadi sumber ide-ide baru untuk menyelesaikan masalah perusahaan dan merangsang karyawan untuk berusaha lebih keras mencapai keberhasilan.

Pergesekan

Ketika sampai pada pertumbuhan dan kesuksesan bisnis suatu perusahaan, pergesekan adalah salah satu cara untuk menentukan karyawan mana yang terbaik. Tingkat konflik interpersonal yang dipantau akan memungkinkan karyawan yang lebih banyak akal untuk menemukan solusi untuk masalah.

Selain itu, juga dapat memberi tahu atasan terkait anggota staf mana yang dapat membantu perusahaan tumbuh. Karyawan yang tidak memiliki tekad untuk bekerja dalam kerangka konflik akan mencari cara kerja lain. Perusahaan hanya memiliki karyawan yang ingin bekerja keras untuk berhasil.

Kerja tim

Beberapa konflik interpersonal muncul dari dua sudut pandang yang saling bersaing yang berusaha mencapai hasil yang sama. Seorang manajer proaktif dapat menemukan cara untuk memungkinkan kedua belah pihak mendapat manfaat dari kecerdikan mereka, dan untuk mendorong faksi-faksi yang bersaing untuk bekerja sama untuk mengembangkan solusi bersama.

Ketika konflik memacu kreativitas, realisasi tujuan bersama dapat membentuk kreativitas itu menjadi tim yang efektif.

Menunjukkan kekurangan perusahaan

Sebuah perusahaan dapat belajar tentang kekurangannya dengan memonitor konflik interpersonal karyawan. Sebagai contoh, jika orang-orang dari departemen akuntansi terus-menerus berdebat dengan orang-orang dari kelompok penjualan, itu bisa terlihat seperti kasus konflik interpersonal yang merajalela.

Tetapi analisis yang lebih dekat dari situasi mungkin menunjukkan beberapa hambatan komunikasi antara kedua kelompok yang menyebabkan salah tafsir informasi yang mengarah pada konflik. Dengan memperbaiki masalah, perusahaan meningkatkan komunikasi antar departemen dan meningkatkan produktivitas.

Contoh Konfik Interpersonal

Beberapa contoh konflik interpersonal, antara lain:

  1. Pasangan yang sudah menikah yang mempeributkan masalah keuangan
  2. Dua orang karyawan yang memperebutkan untuk mendapat promosi.
  3. Seorang asisten rumah tangga yang ingin upahnya dinaikkan tetapi majikannya tidak mempedulikan bahkan mengancam akan mencari pengganti apabila tetap ingin dinaikkan gajinya.
  4. Ketika juru gambar hampir selesai dengan cetak biru jalan baru yang akan dibangun, dua pengawasnya datang dan memintanya untuk mengesampingkan pekerjaannya tersebut dan mulai mengerjakan proyek lain yang mereka pilih. Tentu hal ini akan menimbulkan konflik karena mengganggu tujuan si juru gambar dan akan sangat menyebalkan baginya.
  5. Seorang atlet wanita tampil sangat baik dalam tim basket sekolah menengahnya. Namun justru pelatihnya membawanya keluar dari permainan. Hal tersebut tentu saja akan mengganggu dia untuk mencapai tujuannya.

Baca juga;

  1. Cara Pengendalian Konflik Beserta Contohnya
  2. Contoh Konflik Antar Suku di Indonesia
  3. Contoh Konflik Antar Agama di Indonesia dan Dunia

Nah, itulah tadi penjelasan serta pengulasan secara lengkapnya mengenai pengertian konflik interpersonal, ciri, tujuan, dan contohnya di dalam kehidupan masyarakat. Semoga melalui tulisan ini memberikan wawasan serta menambah pengetahuan pembaca sekalian. Trimakasih,

Rate this post