2 Struktur Isi dari Tinjauan Pustaka dan Contohnya

Diposting pada

Tinjauan Pustaka Berisi

Tinjauan pustaka yang dikenal dengan literature review atau tinjauan literatur pada hakikatnya menjadi bagian penting dalam pembuatan karya tulis ilmiah. Tetapi pada praktiknya, tinjauan pustaka ini justru sering kurang dianggap dalam sebuah penulisan, baik itu skripsi, makalah, proposal penelitian, dan lain sebagainya. Hal ini terlihat dari tidak adanya konsep penjelas berupa varibel dan objek penelitian yang diambil.

Yang pastinya, isi dari tinjauan pustaka ialah uraian konsep-konsep dalam topik penelitian yang memiliki definisi sekaligus landasan teori sebagimana yang dikemukakan para ahli.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka adalah penjelasan terkait dengan uraian yang harus berisi tentang ungkapan-ungakap peneliti sebelumnya yang serupa dengan penelitian yang akan dilakukan. Sehingga dalam penjelasan ini lebih di dasari pada langkah-langkah penelitian yang akan dikembangkan.

Isi dari Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka berisi beberapa hal. Antara lain;

  1. Konsep teori yang ada dalam Topik Penelitian

Isi tinjauan pustaka yang ditulis oleh setiap penulis makalah ataupun proposal penelitian setidakya haruslah terkait dengan konsep yang ada dalam topik penelitian. Prihal ini setidaknya menjadikan bahan diskusi terkait dengan kekhasan masing-masing sumber dan kesamaannya dengan yang lain.

Contohnya saja ketika akan melakukan penulisan tentang;

Media Filtrasi Penjernihan dan Meningkatkan PH Air

Maka, bagian isi dalam tinjauan pustakanya. Yaitu;

Isi Tori Tinjauan Pustaka

Filtrasi

Menurut Masduqi (2002), filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cairan maupun gas) yang membawanya menggunakan suatu media berpori atau bahan berpori untuk menghilangkan sebanyak mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan koloid.

Pada pengolahan air minum filtrasi digunakan untuk menyaring hasil dari proses koagulasi – flokulasi – sedimentasi sehingga dihasilkan air minum dengan kualitas tinggi. Selain mereduksi kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan bakteri, menghilangkan warna, rasa, bau besi dan mangan.

Kejernihan Air

Kejernihan adalah keadaan bisa melihat dengan jelas. Menerima kejernihan dalam saat-saat memperoleh wawasan mengejutkan ketika mampu mengalihkan perpektif dengan memandang suatu situasi dengan sudut pandang lain (Charie, 2004). Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Jernih berarti air bebas atau sedikit sekali tercampur lumpur. Tidak berwarna artinya tidak mengandung bahan organik dan bahanstruktur isi dari kepenulisan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

Tidak berbau artinya tidak terjadi pelapukan di dalam air oleh mikroorganisme, karena bau yang kadang tercium dalam air merupakan ciri terjadinya proses pelapukan bahanbahan organik oleh mikroorganisme
dalam air

  1. Diskusi dan Analisis Hubungan pada Penelitian

Bagian dari penulisan isi tinjauan pustaka ialah adanya usaha dari tinjauan pustaka itu sendiri untuk menghubungkan hasil karya yang ditinjau dengan penelitian itu sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sistematika penulisan ini berarti, tinjauan pustaka yang baik sebisa mungkin harus menunjukkan perbedaan atau kekurangan dari pustaka yang ditinjau.

Isi Dikusi dan Hubungan dengan Topik dalam Tinjauan Pustaka

Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa sesuatu larutan. Sebagai satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan atau kehidupan mikroorganisme dalam air, secara empirik pH yang optimum untuk tiap spesifik harus ditentukan. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari penyimpanan standar kualitas air minum dalam pH ini yaitu bahwa pH yang lebih kecil dari 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan dapat menyebabkan korosi pada pipa-pipa air dan menyebabkan beberapa senyawa menjadi racun, sehingga menggangu kesehatan (Sutrisno,2004).

Nilai pH normal untuk air tanah biasanya antara 6 sampai dengan 8,5. Nilai ambang batas pH untuk air minum sesuai dengan Permenkes No 492/Menkes/Per/IV/2010 yaitu 6,5 – 8,5. Air dengan pH rendah (<6,5) berupa asam, mengandung padatan rendah, dan korosif. Air dengan kondisi seperti ini dapat mengandung besi, dan lain-lain. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada pipa transmisi, selain itu juga menimbulkan rasa yang asam, noda pada baju, noda pada kloset, dan lain sebagainya, serta menimbulkan dampak buruk pada kesehatan. Sedangkan untuk air dengan pH tinggi (>8,5) berupa basa. Air tersebut tidak terlalu berdampak buruk pada kesehatan, akan tetapi dapat menimbulkan masalah berupa rasa basa pada air.

Nah, itulah saja artikel yang bisa dibagikan pada semua kalangan berkenaan dengan struktur isi dari kepenulisan tinjauan pustaka dan contohnya. Semoga saja bisa memberikan wawasan bagi kalian semuanya yang sedang membutuhkannya.

Rate this post