6+ Pengertian Pondok Pesantren, Sejarah, Tujuan, dan Jenis Lengkap

Posted on

6+ Pengertian Pondok Pesantren, Sejarah, Tujuan, dan Jenis Lengkap

Pengertian Pondok Pesantren, Sejarah, Tujuan, dan Jenis Lengkap

indonesiastudents.comPondok Pesantren (PonPes) pada hekatnya terdiri dari dua istilah, pertama adalah pondok dan kedua adalah pesantren. Pondok dimaknai sebagai tempat yang dulunya dikenal dengan pondokan. Sedangan istilah pesantren berasal dari kata”santri” yang kemudian mendapatkan imbuhan ”pe” dan akhiran ”an” kedua kedua istialh ini Pondok Pesantren diartikan sebagai tempat yang dipergunakan oleh para santri untuk menimba ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan Agama Islam.

Sebagai penjelasan lebih lanjut, dalam tulisan ini indonesiastudents.com akan menguraikan tentang pengertian pondok pesantren (pon-pes), sejarah, tujuan, dan jenisnya lengkap.

Pengertian Pondok Pesantren


Pondok pesantren adalah tempat atau lembaga pendidikan yang dipergunakan oleh para santri untuk menimba berbagai ilmu pengetahuan agama islam, baik ilmu nahwu, sorof, fiqih, tauhid, ataupun ilmu Agama Islam yang lainnya.

Baca: Pengertian Islam Radikal Menurut Para Ahli Beserta Cirinya

Sedangkan pengertian pondok pesantren menurut para ahli, diantaranya sebagai berikut;

Pengertian Pondok Pesantren Menurut Para Ahli


Karel Steenbrink (1995)

Menurutnya, arti pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang murni milik masyarakat Indonesia, sejak sebelum kemerdekaan dan sesuadah kemerdekaan.

Dhofier (1994)

Pondok pesantren adalah lembaga sosial pendidikan agama Islam yang bersifat tradisional  yang dipergunakan untuk mendidik dan mengejari para santri (orang yang tinggal dipesantren) sampai benar-benar menjadi manusia yang berakhlaq mulia.

Said Agil Syiradj

Definisi pesantren adalah suatu tempat yang menjadi perkembangan dan pengajaran pada dimana dimensi eksoterik (penghayatan secara lahir)

D.M (2013)

Menuritnya, pondok pesantren adalah suatu sistem pembelajaran pesantren yang berasal dari budaya masyarakat pada saat itu yang mayoritas beragama hindu. Contoh konkrit dalam pengertian ini, dapat dilihat pada sejarah nama pesantren itu sendiri dari kata santri yang berarti guru mengaji dalam bahasa tamil (D.M, 2013), meskipun pada masa 60-an pesantren lebih dikenal dengan sebutan pondok yang kemungkinan berasal dari bahasa arab yaitu funduq, atau penginapan bagi para musafir.

Mastuhu (1994)

Menurutnya, arti pondok pesantren adalah lembaga pendidikan agama islam yang bersifat tradisional sehingga tergolong dalam pendidikan berbasis kearifan lokal.

K.H. Abdurrahman Wahid (Dalam Zuhriy, 2011).

Menurutnya, pesantren adalah sub-kultur tersendiri dikarenakan ciri-ciri yang dimiliki pondok pesantren tidak ditemukan di tempat lain. Ciri-ciri yang khas tersebut menurut Gus Dur adalah sebagai berikut;

Ciri-Ciri Pondok Pesantren (Pon-Pes)

  • Adanya tokoh Agama (Kiai atau Ust)
  • Santri, adalah orang yang mentep dan belajar di pondok
  • Memiliki masjid
  • Adanya tempat tinggal atau biasanya dikenal dengan pondok (Bahasa Jeseng disebut Kobong)
  • Dan melaukan pengajaran kitab klasik.

Pesantren dikatakan sebagai sub-kultur dikarenakan faktor pendukung lain seperti, pola kepemimpinan yang mandiri tidak terkooptasi oleh negara, kitab-kitab rujukan yang dikaji berasal dari kitab klasik yang disebut kitab kuning, serta sistem nilai yang dipilih

Dari 6 pengertoan pondok pesantren menurut para ahli diatas, dapat dikatakan jika pondok pesantren sampai saat ini memiliki peran besar bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di pondok pesantren dan pengajarannya telah mampu memberikan kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk keluar dari gelapnya jurang kebodohan sejak awal pendiriannya pada masa Walisongo.

Pendidikan yang ada di pondok pesantren memberi kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk mengenyam pendidikan tanpa melihat suku, golongan, maupun kasta. Rakyat dibebaskan untuk bertanya kepada kiai mengenai permasalahan apapun dan bebas untuk mengenyam ilmu pengetahuan tanpa harus bersusah payah mengeluarkan uang dalam jumlah besar karena keberlangsungan pesantren berasal dari kerja sama seluruh penduduk di sekitar lingkungan pesantren.

Penerapan sistem pendidikan pesantren yang terbuka dan egaliter telah membukakan pintu ilmu pengetahuan bagi rakyat Indonesia yang terjebak pada jurang kebodohan karena penjajahan berabad-abad lamanya.

Sejarah Pondok Pesantren


Sejarah pondok pesantren pada dasarnya merupakan modifikasi dari model pendidikan agama Hindu yang dianut oleh mayoritas masyarakat Nusantara pada awal masuknya ajaran Islam, yaitu Mandala. Sebagaimana pesantren yang mengenal Kyai dan Santri sebagai guru dan murid, model pendidikan Mandala juga mengenal Ki Ajar sebagai figur panutan dan cantrik sebagai pembantu dan muridnya (Nurhidayati, 2010).

Sistem pendidikan pesantren memiliki konsep yang sama dengan sistem pendidikan Mandala dimana terdapat Majlis Masyayeikh yang berperan sebagai pembina, penasihat, pembimbing kegiatan dan sekaligus merupakan pimpinan tertinggi pondok pesantren seperti yang diterapkan pada Pondok Pesantren Langitan Tuban dan Pondok Pesantren Gilang Babat (Zuhriy, 2011).

Majlis Masyayeikh terdiri dari beberapa orang kiai yang masih memiliki hubungan keluarga. Majlis Masyayeikh dibantu oleh perangkat personal pengurus untuk menjalankan fungsinya. Selama 24 jam kiai bertugas mengawasi dan membina para santri, hal ini didukung dengan posisi tempat tinggal kiai dan keluarga yang berada di lingkungan pesantren. Uniknya, kiai tidak segan-segan untuk makan malam di dapur bersama para santri.

Tentu saja santri akan merasa bangga karena bisa makan bersama dengan pemimpin yang dihormati. Kasus ini jarang ditemukan pada pendidikan konvensional dimana pimpinan sekolah atau dekan jarang terlihat berinteraksi dengan anak didiknya sehingga secara tidak langsung menciptakan batas semu di antara keduanya. Interaksi secara langsung seperti ini dapat dijadikan contoh bagi para santri untuk menjadi pemimpin yang memiliki prinsip egaliter dan tidak segan untuk terjun langsung melihat apa yang terjadi pada rakyatnya.

Selanjutnya, untuk tujuan didirikannya pondok pesantren diberbagai wilayah yang ada di Indonesia, antara lain sebagai berikut;

Tujuan Pondok Pesantren


  1. Mencerdaskan dan memberikan bekal ilmu pengetahuan Agama Islam yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadist

  2. Memberikan pendidikan moral atau etika, seperti sopana santun
  3. Mananamkan nilai-nilai ketaan kepada Allah S.W.T
  4. Tujuan lainnya, menurut Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, pesantren juga memiliki potensi membangun ekonomi masyarakat. Sebab, santri di pesantren selain belajar keagamaan juga telah terbiasa dididik mandiri sekaligus terbiasa bersinggungan dengan manusia lainnya yang beragam dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga dengan tujuan tersebut lembaga pemerintah perlu untuk mendorong dan bersinergi menyiapkan kesetaraan regulasi, kesetaraan program, dan kesetaraan anggaran, agar pesantren tidak melulu ketinggalan dengan lembaga negara lainnya.

Jenis-Jenis Pondok Pesantren


Secara garis besar terdapat tiga tipe, bentuk, atau jenis pondok pesantren yaitu, salafiyah, khalafiyah, dan terpadu.

Pondok Pesantren Salafiyah


Pondok pesantren salafiyah adalah pondok pesantren tradisional yang mengajarkan ilmu agama islam dan kitab-kitab klasik yang ditulis oleh ulama-ulama terdahulu dengan metode pengajaran sorogan (individu), bandungan, dan musyawarah.

Pondok Pesantren Khalafiyah (Modern)


Pondok pesantren modern atau khalafiyah adalah tipe pondok pesantren yang memiliki sifat modernisasi,  sehingga pondok pesantren ini ikut memasukkan ilmu pengetahuan umum dengan sistem pembelajaran telah memiliki standar yang jelas dan modern bahkan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab sebagai pengantar.

Pondok Pesantren Terpadu

Pondok pesantren terpadu adalah jenis pondok pesantren yang menggabungkan antra pondok pesantren salafiah dan pondok pesantren modern. Umumnya pondok pesantren terpadu ini para santri atau orang yang tinggal di pesantren juga dituntut untuk sekolah formal, seperti menempuh pendidikan SD, SMP, SMP, sampai perguruan tinggi.

Di antara tipe-tipe tersebut, menurut Zuhriy (2011), pondok pesantren salafiyah adalah tipe pondok pesantren yang pertama kali muncul. Pendirian pesantren salafiyah biasanya berada di lingkungan pedesaan sehingga identik dengan sikap santri serta kiai-nya yang sederhana, ikhas, dan bersahaja. Seiring berjalannya waktu, sistem pendidikan di pesantren mulai menyesuaikan dengan zaman tanpa mengikis nilai-nilai substantif di dalamnya, termasuk dengan hadirnya tipe pondok pesantren yang lainnya, yakni pondok pesantren modern dan terpadu.

Demikianlah pembahasan mengenai 6 pengertian pondok pesantren menurut para ahli, sejarah, tujuan, dan jenis lengkap. Semoga dapat bermanfaat bagi setiap pembaca yang sedang mencari literai atau refrensi mengenai “Pondok Pesantren”. Trimakasih, jangan lupa baca juga artikel tentang 7 Daftar Pondok Pesantren di Lampung Terbaik dan Favorit

Rate this post